Rapendik Streaming

DRAKOLAH AWARD 2014

drakula

OMPENDIK

prestasi

Login

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter

Online sekarang: 30
IP kamu: 54.204.127.56
,
Hari ini: Juli 26, 2014
Share |
Success | .xyz Domain Names | Join Generation XYZ

1

Congrats!

verylongdomainname.xyz is available for registration!*

2

Choose Your Registrar

3

Succeed!

*We cannot guarantee that the domain name listed will be available. The availability status is stated based on our last availability check.

"I love your passion and the fact you are out promoting your extension. That puts you above 99% of the rest." -Chris

".XYZ is the PERFECT extension for Domaining!" -MainDomains

".xyz is actually more generic than most others and i find it more ergonomically pleasing to type" -Vincent

"The good thing about XYZ is that it is generic and unlike many new TLDs it works with pretty much any keyword." -Leonard

"I personally like the pure generic nature of .XYZ and the fact that it comes with no pretense and no expectations." -Andrew

"Now with .xyz you have novel and fun approach to becoming popular with a very important demographic of internet users, 15 to 30." -Jeff

Kurikulum 2013 Hanya di SD Akreditasi A dan B

(0 - user rating)
User Rating:  / 0
TerburukTerbaik 

Kurikulum 2013 Hanya di SD Akreditasi A dan B

 

JAKARTA.- Kurikulum 2013 pada jenjang sekolah dasar hanya akan diterapkan di SD berakreditasi A dan B pada tahun 2013. Adapun SD berakreditasi C akan menerapkan kurikulum baru tersebut mulai tahun 2014.

Keputusan terbaru pemerintah tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim dalam rapat dengar pendapat dengan Panitia Kerja (Panja) Kurikulum Komisi X DPR, Selasa (19/2), di Jakarta.

Musliar mengatakan, pertimbangan pemilihan sekolah berakreditasi A dan B yang jumlahnya 44.609 sekolah didasarkan atas kesiapan sekolah itu dari sisi akreditasi, ketersediaan guru, dan sarana prasarana.

Salah satu anggota panja kurikulum, Dedi Gumelar, mempertanyakan alasan pemerintah hanya memilih SD dengan akreditasi A dan B. Ini dinilai tidak sesuai dengan janji Kemdikbud pada awal-awal pembahasan perubahan kurikulum tahun lalu yang menyatakan bahwa akreditasi tidak menjadi faktor pemilihan sekolah dalam pelaksana Kurikulum 2013. ”Dulu, kan, janjinya semua sekolah dapat kesempatan yang sama,” ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, Mendikbud Mohammad Nuh menambahkan, untuk sementara sekolah-sekolah itu saja yang sudah siap. Pemerintah tidak bisa memaksakan sekolah yang belum siap. Kesiapan sekolah juga dipertimbangkan dari prestasi siswa dan sekolah. SD/MI yang terakreditasi A dan B sebanyak 71,5 persen.

Nuh mengatakan, pemilihan sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 diserahkan kepada setiap daerah. Meski demikian, kriteria pemilihan sekolah tersebut harus sudah terakreditasi dan juga harus memiliki guru tetap yang lengkap, yakni kelas I-VI, guru agama, dan guru pendidikan jasmani, olahraga, serta kesehatan.

Dalam pemaparan Musliar disebutkan, sekolah-sekolah pelaksana kurikulum akan mendapat pendampingan dari sekolah inti. Sekolah inti adalah sekolah negeri/swasta yang ditetapkan kabupaten/kota dan sudah memiliki kriteria terakreditasi A dan memiliki guru inti.

Sementara itu, sekolah inti akan didampingi oleh sekolah pembina. Sekolah pembina adalah sekolah negeri/swasta yang sudah menerapkan discovery learning dan yang sudah menerapkan metode tematik.

Dipertanyakan

Anggota panja kurikulum Zulfadli mempertanyakan pertimbangan dan strategi pemerintah memilih sekolah pembina yang akan mendampingi sekolah-sekolah pelaksana Kurikulum 2013. Karena kriteria yang terlalu tinggi, ia khawatir sekolah-sekolah di daerah akan kesulitan dan tidak ada yang bisa menjadi sekolah pembina.

Keraguan serupa disampaikan Retno Listyarti, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI). Ia mengatakan, waktu pelaksanaan Kurikulum 2013 tinggal empat bulan lagi, tetapi sampai sekarang pemangku kepentingan pendidikan belum pernah melihat dokumen kurikulum yang resmi dan final.

”Jadi kita semua meributkan sesuatu yang barangnya tak jelas, seperti membeli kucing dalam karung,” kata Retno.

Di Magelang, peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jaleswari Pramodhawardani, mengatakan, karena persoalan terorisme semakin luas, materi terorisme perlu masuk dalam kurikulum. ”Generasi muda saat ini kelompok paling potensial direkrut jaringan teroris,” ujar Jaleswari dalam seminar nasional di Akademi Militer Magelang.

Sumber :

Kompas Cetak

http://edukasi.kompas.com/read/2013/02/20/08263377/Kurikulum.2013.Hanya.di.SD.Akreditasi.A.dan.B

 

 

Add comment


Security code
Refresh