Rapendik Streaming

DRAKOLAH AWARD 2014

drakula

OMPENDIK

prestasi

Login

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter

Online sekarang: 61
IP kamu: 54.234.159.229
,
Hari ini: September 03, 2014
Share |

MAHASISWA : AGENT OF CHANGE, SOCIAL CONTROL, AND IRON STOCK

(3 - user rating)
User Rating:  / 3
TerburukTerbaik 

Sebagai seorang pembelajar dan bagian masyarakat , maka mahasiswa memiliki peran yang komleks dan menyeluruh sehingga dikelompokkan dalam tiga fungsi : agent of change, social control and iron stock. Dengan fungsi tersebut, tentu saja tidak dapat dipungkiri bagaimana peran besar yang diemban mahasiswa untuk mewujudkan perubahan bangsa. Ide dan pemikiran cerdas seorang mahasiswa mampu merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas. Dan satu hal yang menjadi kebanggaan mahasiswa mahasiswa adalah semangat membara untuk melakukan sebuah perubahan.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri lalu dengan gagahnya sang pahlawan mengusir penjahat-penjahat yang merajalela dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat.

Mahasiswa bukan hanya sekedar agen perubahan seperti pahlawan tersebut, mahasiswa sepantasnya menjadi agen pemberdayaan setelah peubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya yaitu social control, kontrol budaya, kontrol masyarakat, dan kontrol individu sehingga menutup celah-celah adanya kezaliman. Mahasiswa bukan sebagai pengamat dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian masyarakat.

Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berfikirnya. Namun, kenyataan dilapangan berbeda dari yang diharapkan, mahasiswa cenderung hanya mndalami ilmu-ilmu teori di bangku perkuliahan dan sedikit sekali diantaranya yang berkontak dengan masyarakat, walaupun ada sebagian mahasiswa yang mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui program-program pengabdian masyarakat.

Mahasiswa yang acuh terhadap masyarakat mengalami kerugian yang besar jika ditinjau dari segi hubungan keharmonisan dan penerapan ilmu. Dari segi keharmonisan, mahasiswa tersebut sudah menutup diri dari lingkungan sekitarnya sehingga muncul sikap apatis dan hilangnya silaturrahim seiring hilangnya harapan masyarakat kepada mahasiswa. Dari segi penerapan ilmu, mahasiswa ynag acuh akan menyianyiakan ilmu yang didapat di perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi sangat kurang kuantitas sumbangsih ilmu pada masyarakat.

Lalu jika mahasiswa acuh dan tidak peduli dengan lingkungan, maka harapan seperti apa yang pantas disematkan pada pundak mahasiswa. Mahasiswa sebagai iron stock berarti mahasiswa seorang calon pemimpin bangsa masa depan, menggantikan generasi yang telah ada dan melanjutkan tongkat estafet pembangunan dan perubahan. Untuk menjadi iron stock, tidak cukup mahasiswa hanya memupuk diri dengan ilmu spesifik saja. Perlu adanya soft skill lain yang harus dimiliki mahasiswa seperti kepemimpinan, kemampuan memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas yang tinggi. Pertanyaannya, sebagai seorang mahasiswa, apakah kita sudah memiliki itu semua ??

Maka komplekslah perah mahasiswa itu sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya yang ditopang dalam tiga peran : agent of change, social control, and iron stock. Hingga suatu saat nanti, bangsa ini akan menyadari bahwa mahasiswa adalah generasi yang ditunggu-tunggu bangsa ini.. Kitalah generasi itu..

Mahasiswa dapat dikatakan sebagai seseorang yang punya inteligensi tinggi di dalam masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa mampu berada sedikit di atas masyarakat. Potensi yang besar dan perlakuan yang istimewa merupakan salah satu keuntungan mahasiswa untuk bergerak aktif, sayang sekali bila tidak digunakan dengan maksimal. Mahasiswa sejatinya bukan hanya penting bagi negara tapi juga bagi masyarakat di sekitarnya.

Akhir-akhir ini peran mahasiswa yang seperti itu mengalami pergeseran nilai, tak seperti dulu. Mahasiswa sekarang cenderung mengutamakan nilai akademik saja, walau ada beberapa mahasiswa yang masih peduli dengan keadaaan bangsa dan masyarakat disekitarnya. Mahasiswa sudah lama jauh dari sosok yang teladan dalam masyarakat, yang selama ini posisi mahasiswa di masyarakat dianggap sebagai kaum ekslusif, kaum yang hanya bisa membuat kemacetan di kala aksi, tanpa sekalipun memberikan hasil yang konkret, yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Dengan begitu, bagaimanakah cara mengubah pandangan masyarakat tentang mahasiswa? Tentu tidaklah mudah.

Sebagian Mahasiswa terkadang merasa terbebani dengan tanggung jawab yang tinggi terhadap status yang didapatkannya, namun itu bukanlah alasan mengapa mahasiswa tidak bisa melakukan tugas yang selama ini diembankan kepadanya. Sudah cukup banyak Mahasiswa tidak bisa melaksanakan tugas yang selama ini diembankan kepadanya dengan baik. Lantas dengan hal itu munculah pertanyaan, sejauh manakah kualitas Mahasiswa saat ini? Apakah baik? Ataukah buruk? Tahun demi tahun, kualitas Mahasiswa semakin menurun. Tidak dipungkiri lagi, hal itu terjadi karena beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut :

  1. Mahasiswa memilih perguruan tinggi dan fakultasnya tidak sesuai dengan keinginan dia sendiri, cenderung mengikuti teman dan tren yang ada.
  2. Mahasiswa kuliah karena ingin mengisi waktu yang kosong dan mendapatkan gelar saja.
  3. Kurangnya kesadaran Mahasiswa agar menjadi sosok yang aktif dalam lingkungannya, kurang kritis, dll.

Agent of Change

Sebenarnya saya tidak terlalu setuju dengan gambaran Agent of Change, karena kata tersebut menggambarkan bahwa peranan mahasiswa hanya sebagai agen dalam perubahan. Seolah-olah mahasiswa hanyalah alat untuk perubahan itu sendiri, bukannya sebagai pencetus perubahan. Inilah alasan mengapa saat ini peranan mahasiswa banyak yang diboncengi pencetus perubahan lain seperti halnya partai politik, ormas, dan lainnya. Dilihat dari kata ”pencetus”, mahasiswa seharusnya dapat bergerak secara independen, tidak terikat janji-janji politik, sesuai dengan idealisme mereka.
Mahasiswa yang mempunyai idealisme sudah seharusnya berpikir dan bertindak bagaimana mengembalikan kondisi negara menjadi ideal. Oleh karena itu mahasiswa dituntut bukan hanya menjadi agen perubahan saja, melainkan pencetus perubahan itu sendiri yang tentunya ke arah yang lebih baik. Namun seharusnya mahasiswa tidak perlu tergesa-gesa dalam mengubah negara menjadi ideal, hal utama yang harus dirubah adalah dirinya sendiri. Karena kebanyakan dari mahasiswa yang ada, mereka hanya ikut-ikutan temannya sebelum mengubah dirinya sendiri sebagai pribadi yang benar. Tetapi hal seperti itu tidaklah salah, setidaknya mereka sudah mau untuk berpartisipasi dalam perubahan, karena masih banyak mahasiswa di luar sana yang acuh terhadap lingkungan sekitarnya.

Social Control

Mengapa harus menjadi social control? Peran mahasiswa sebagai kontrol sosial terjadi ketika ada yang tidak beres atau ganjil dalam masyarakat dan pemerintah. Saat ini di Indonesia, masyarakat merasakan bahwa pemerintah hanya memikirkan dirinya sendiri dalam bertindak. Usut punya usut, pemerintah tidak menepati janji yang telah diumbar-umbar dalam kampanye mereka. Kasus hukum, korupsi, dan pendidikan merajalela dalam kehidupan berbangsa bernegara. Inilah potret mengapa mahasiswa yang notabene sebagai anak rakyat harus bertindak dengan ilmu dan kelebihan yang dimilikinya.

Mahasiswa sudah selayaknya memberontak terhadap kebusukan-kebusukan dalam birokrasi yang selama ini dianggap lazim. Bergerak untuk menjaga dan memperbaiki norma sosial yang ada dalam masyarakat. Namun, perbuatan mahasiswa dalam kontrol sosial tidak hanya turun ke jalan, tapi juga dengan hal yang substansial, contohnya melalui diskusi. Dengan didukungnya pokok-pokok pikiran yang didapatkan melalui diskusi, mahasiswa akan mejadi lebih bijak dalam mengubah hal yang tidak beres dalam masyarakat maupun pemerintah.

Iron Stock

Peranan mahasiswa yang tak kalah penting adalah iron stock atau mahasiswa dengan sebagai pengganti generasi-generasi sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa mahasiswa adalah bagian dari suatu bangsa yang diharapkan memiliki kemampuan, keterampilan, dan akhlak yang mulia untuk menjadi penerus generasi terdahulu. Keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi dalam internal ataupun eksternal kampus tentu mempengaruhi kualitas mahasiswa. Kaderasasi yang baik dan penanaman nilai yang baik juga akan meningkatkan kualitas mahasiswa yang menjadi calon pemimpin masa depan.

Selain memperkaya pengetahuan yang ada terhadap masyarakat, mahasiswa juga memerlukan untuk mempelajari berbagai kesalahan yang ada pada generasi sebelumnya sehingga menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan diri. Hingga akhirnya sampailah mahasiswa ke jenjang dimana mereka siap menjadi calon pemimpin siap pakai.

Bagaimanapun keadaan mahasiswa sekarang ini, sudah seharusnya kita tidak kehilangan harapan kepadanya. Karena harapan itu perlu, agar tumbuh kepercayaan diantara kita dan mereka. Dengan begitu mereka dengan senantiasa berusaha demi sebuah harapan yang kita sematkan kepadanya.


Narasumber : Wanda Ramansyah, S. Pd, M. Pd (Dosen Universitas Trunojoyo Madura)

 

Add comment


Security code
Refresh