Perkataan Simpati Yang Justru Menyakitkan Hati Orang Tua Dengan ABK

February 17, 2016

Menunjukkan perhatian itu baik. Sangat baik. Namun, kalau ditunjukkan dengan cara yang kurang tepat, maksud baik kita bisa menjadi sesuatu yang justru membuat orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tersinggung. 

 

Nah, jadi apa-apa saja sih yang sebaiknya tidak  diucapkan, ditanyakan, atau ditunjukkan pada orangtua dengan anak berkebutuhan khusus?

  1. "Kasihan banget ya anakmu." Terdengar ringan, tapi sungguh sebetulnya mereka tidak ingin dikasihani. Diksi 'kasihan' seolah menunjukkan bahwa anak-anak difabel ini adalah beban dan kemalangan bagi orang tua. Padahal, mereka (sedang berusaha) melihat anak berkebutuhan khusus sebagai ujian dan ladang amal. Mungkin maksudnya kita ber-empati. Namun, empati tidak  selalu bisa ditunjukkan dengan diksi 'kasihan' loh.

  2. "Anakmu kok begitu, pasti dulu kamu pernah berusaha gugurin ya?" Ini pertanyaan yang sama sekali nggak menunjukkan empati. Coba baca-baca dulu, banyak alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara medis sebagai penyebab anak lahir dengan kebutuhan khusus. 

  3. "Anakmu begitu karena menanggung dosa-dosa orangtua nya." Pernyataan paling kejam sejagad raya. Rasanya nggak mungkin ya seseorang sampai hati berkomentar begini? Tapi ada juga yang bilang seperti ini. Pasti hal ini menyinggung perasaan orang tua, Jadi jangan pernah ucapan ini pada mereka!.

  4. "Anakmu nggak bisa denger, biasanya nanti nggak bisa ngomong juga." Ini maksudnya apa? merekamenganggp ini sebagai komentar yang tidak memberi semangat dan harapan.

  5. "Anakmu ada gangguan pendengaran dan udah pakai hearing aids setahun kok belum ada progress? Anak tetanggaku baru pakai hearing aids 5 bulan sudah bisa babbling loh." Membanding-bandingkan kemampuan anak-anak mereka dengan anak lain (walau sama-sama difabel) juga kurang nyaman untuk didengar. Jangankan ABK, anak normal A aja tidak bisa dibandingkan dengan anak normal B, bukan? Pertanyaan seperti itu mau tidak mau menuntun mereka untuk berpikir, "Iya ya, kenapa anakku nggak secepat tetangganya?" Bagus kalau orangtua ABK tersebut kemudian bersemangat mengevaluasi perkembangan anaknya, mencari apa yang kurang, apa yang perlu ditingkatkan, dan di mana letak miss nya. Tapi, kalau malah jadi down, bagaimana?

  6. "Kamu nggak bisa ngurus anakmu dengan baik sih, makanya anakmu jadi begitu." Tahukah kita berapa banyak yang harus kami kesampingkan untuk memperjuangkan perbaikan kemampuan anak-anak difabel mereka, baik dalam waktu, biaya, tenaga, dan perasaan? Sebetulnya, mereka tidak butuh pengakuan. Tapi, pertanyaan begitu mau tidak  mau membuatmereka berpikir, "Apa harus sayabilang  semuanya biar kalian tahu?"

  7. "Cantik/gantengnya anakmu, sayang ya tuna rungu." Kalimat seperti ini sering kita dengar, kalimat seperti ini membuat orangtua dengan anak berkebutuhan khusus merasa kita adalah orang yang tidak bisa menerima anak mereka.

  8. "Anakmu aktif banget ya, lari sana-sini nggak bisa diam... Oh pantes, tuna rungu toh ternyata." Rasanya ini terdengar seperti stereotype kalau ABK pasti perilakunya minus di telinga mereka. Dan rasanya kurang nyaman untuk didengar.

Nah, daripada mengucapkan atau menanyakan dengan cara seperti itu, mari kita berempati dan keingintahuan kita menjadi lebih positif untuk didengar. Bijaksanalah dalam berucap.

Sumber: http://www.gracemelia.com/2015/01/jangan-ucapkan-ini-pada-orangtua-anak.html

Please reload

Other News

Sambut MEA, UPT BP2D Dinas Pendidikan Prov. Jatim Gelar Festival Cipta Desain & Fashion Show bagi Siswa SMK se-Jatim

May 13, 2017

1/10
Please reload

© Rapendik 2018