Peran Keluarga Sebagai Penangkal Demoralisasi

May 26, 2016

Oleh : Selis Dwi Santoso

 

Akhir akhir ini kita disuguhkan beberapa berita yang cukup menyita perhatian publik, dari televisi, media sosial atau portal berita, dengan pemberitaan kasus kekerasan terhadap anak, baik itu pencabulan, pemerkosaan dan tidak jarang pula dari beberapa kasus tersebut disertai dengan penganiayaan, ancaman bahkan berujung pada trenggutnya nyawa korban, jika kita mencari dimesin pencari google dengan keyword  “kasus pencabulan 2016” maka, deretan kasus-kasus akan bermunculan dari berbagai daerah di Indonesia, salah satu kasus yang mencengangkan adalah berita dari bengkulu, Yuyun, siswi Sekolah Menengah Pertama 5 Satu Atap Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejanglebong, menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan 14 tersangka, tersangka merupakan anak ABG tanggung. Usia mereka antara 17 hingga 20 tahun, satu lagi kasus yang tidak kalah heboh dikota Surabaya, siswi SMP berusia 13 tahun korban pencabulan beramai-ramai oleh delapan temannya yang juga masih di bawah umur  di kawasan Kecamatan Gubeng. Delapan tersangka diantaranya ada anak yang masih berusia 9 tahun.

 

Kita seakan dipaksa untuk lego lilo menerima kenyataan bahwa hal ini nyata terjadi, bukan mimpi apalagi sebuah dongeng penghantar tidur, inilah yang sedang terjadi di negeri tercinta kita, negara yang dahulu terkenal dengan budaya sopan santun, berbudi luhur dan masyarakatnya penuh dengan kasih sayang, apakah masih ada budaya tersebut di negara ini? Apakah masih tertanam roso welas, unggah-ungguh , kamanungsan pada masyarakat sekarang? Apakah benar telah terjadi demoralisasi pada anak anak kita? Ini yang menjadi tanda tanya besar. Menurut Thomas Lickona (1992) ada sepuluh perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa yaitu: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja; (2) ketidak jujuran yang membudaya; (3) semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orangtua, guru dan figur pemimpin; (4) pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan; (5) meningkatnya kecurigaan dan kebencian; (6) penggunaan bahasa yang memburuk; (7) penurunan etos kerja; (8) menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga Negara; (9) meningginya perilaku merusak diri; dan (10) semakin kaburnya pedoman moral.

 

Mungkin hal inilah yang sedang melanda bangsa ini, dengan terjadinya kasus kasus yang bermunculan  dikalangan anak remaja, atau bahkan yang masih anak-anak. Tawuran pelajar, pesta miras, seks bebas, pemerkosaan, pencabulan. Beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pra nikah juga dilakukan beberapa remaja. Misalnya saja di Surabaya tercatat 54 persen, di Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan.
Bagaimana dengan kehamilan yang tidak diinginkan? . Hasil penelitian di Yogya dari 1.160 mahasiswa, sekitar 37 persen mengalamai kehamilan sebelum menikah.Selain itu data tentang penyalahgunaan narkoba menunjukkan, dari 3,2 juta jiwa yang ketagihan narkoba, 78 persennya adalah remaja. Sedangkan penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya.Estimasi jumlah aborsi di Indonesia per tahun mencapi 2,4 juta jiwa. 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja.


Berdasarkan data Kemenkes pada akhir Juni 2010 terdapat 21.770 kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun yakni 48,1 persen dan usia 30-39 tahun sebanyak 30,9 persen.

 

Lantas bagaimana kita menyikapi fenomena seperti ini? Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara membentengi dan mengantisipasi dari hal yang paling mendasar, yakni keluarga, peran keluarga disini sangat diperlukan dan menentukan untuk pembentukan karakter serta tumbuh kembang anak, menurut (Sarwono, 1999) Komunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang baik pula, dan juga menciptakan saling memahami akan makna atau arti dari pesan yang disampaikan. Disini berarti peran orang tua sangat vital, sehingga mau tidak mau kita dituntut untuk belajar bagaimana cara mendidik anak dengan baik, serta memberikan tauladan yang benar.  Allah berfirman: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Q.S.(66):6). Juga Rasulullah bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nashrani atau Majusi (H.R.Tabrani dan Baihaqi). Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah menjelaskan: “Awasilah anak-anakmu dan perbaikilah adabnya” (H.R.Ibnu Majah).

 

Selain itu, membentengi anak-anak kita dari bahaya negatif perubahan sosial juga tidak kalah penting. Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa perkembangan teknologi juga membawa dampak negatif bagi anak-anak kita, konten pornografi, kekerasan, serta tayangan televisi yang tidak mendidik ikut menyumbang proses demoralisasi pada anak-anak kita, kita tidak perlu apatis terhadap kemajuan teknologi, karena memang tidak ada yang bisa membendung, Professor Janna Anderson dari Elon Universty melaporkan dalam tulisannya bahwa internet akan menjadi terlihat begitu penting dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari interaksi personal hingga pada keputusan-keputusan yang dibuat pemerintah maupun perusahaan di seluruh dunia. Menurut para ahli, akan banyak menimbulkan sisi positif, tetapi tidak sedikit juga menimbulkan masalah.

 

Bukan kemajuan teknologi yang kita khawatirkan, karena sejatinya itu hanya sebuah objek, tergantung bagaimana subjeknya dalam menggunakan dan memanfaatkan. Sebilah pisau bisa menjadi baik dan bermanfaat jika pisau itu dipakai oleh seorang juru masak untuk mengolah sayuran, daging dan rempah-rempah menjadi sebuah masakan yang bisa dinikmati oleh orang banyak,  berbeda jika sebilah piasu tersebut digunakan oleh perampok untuk mendukung aksinya dalam melancarkan kejahatan, terlebih lagi jika sampai dipakai untuk merenggut nyawa orang lain, naudzubillah. Maka disini bisa kita simpulkan bahwa tidak ada tempat yang nyaman selain keluarga, tidak ada tempat yang aman selain bersama keluarga, jadikanlah keluarga sebagai surga, kita sebagai orang tua belajar menjadi panutan dan teladan yang baik serta madarasah pertama bagi anak- anak kita.

 

Oleh : Selis Dwi Santoso

Please reload

Other News

Sambut MEA, UPT BP2D Dinas Pendidikan Prov. Jatim Gelar Festival Cipta Desain & Fashion Show bagi Siswa SMK se-Jatim

May 13, 2017

1/10
Please reload

© Rapendik 2018