Era Digital ataukah Era Kolonial ?

July 18, 2017

 

 

Oleh : Selis Dwi Santoso

 

Selain kematian, yang pasti terjadi didunia ini salah satunya adalah perubahan, dua hal ini sama sama tidak bisa kita prediksi kedatangannya, akan tetapi kita semua pasti mengalaminya, bahkan sudah menjadi sunatullah terjadinya perubahan itu sendiri, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad ayat 11), yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah, perubahan yang seperti apa yang kita inginkan?.

 

Mengacu pada masa sekarang, yang sudah memasuki era digital, terjadi revolusi besar-besaran terhadap tatanan masyarakat global, hal ini hampir sama seperti yang terjadi pada masa revolusi industri terjadi sekitar abad 17, pada masa itu para ilmuwan mengembangkan peralatan-peralatan kerja yang sangat membantu aktifitas perekonomian, mereka merubah secara besar-besaran teknologi diantaranya bidang pertanian, manufactur dan transportasi.

 

Dampaknya pada waktu itu adalah terjadinya ekspansi, negara-negara maju menguasai negara dengan penghasil bahan baku untuk memenuhi produksi industri mereka, disinilah era kolonial terjadi, banyak negara jajahan termasuk Indonesia dieksploitasi sumber daya alamnya dan sumber daya manusianya.

 

Di Era sekarang, mau atau tidak mau kita sudah mengalami revolusi teknologi yang juga sudah merubah sistem transportasi, perdagangan, perekonomian dan kultur sosial masyarakat global, dibidang perdagangan contohnya, tidak ada lagi sekat yang menghalangi antara penjual dan pembeli, kita bisa mengakses informasi apapun yang kita mau kapanpun dan dimanapun dengan tingkat transfer informasi yang tidak berjarak.

 

Tetapi kondisi sumber daya manusia dan tatanan masyarakat kita di era kolonial dan era digital seakan tidak mengalami perubahan secara signifikan, banyak yang mengatakan kita sudah menjadi negara yang cukup berkembang pesat dengan adanya pembangunan secara besar-besaran fasilitas untuk perekonomian para kaum kapitalis, dan perkembangan teknologi yang faktanya kita hanya diposisi tidak lebih sebagai penonton dan tim penggembira diantara negara-negara produsen teknologi.

 

Sumber daya alam dan manusia kita dibabat habis tanpa kita sadarai persis seperti 3 abad yang lalu. Berapa banyak tenaga profesional dari Indonesia yang bekerja diluar negeri untuk mengembangkan bisnis mereka?, berapa banyak sumber bahan-bahan mentah kita yang di ekspor keluar negeri dengan dalih perdagangan bebas, padahal yang terjadi tidak ubahnya seperti era kolonial.

 

Kita sudah cukup lama menjadi bangsa yang terjajah, hingga terlena dengan kondisi terjajah bahkan sampai sekarang,  ketika Bung Karno mengajar saat dibuang ke Bengkulu ada yang pernah bertanya, “Kenapa kita menuntut kemerdekaan, sedangkan kita sekarang sudah enak di bawah Pemerintah Hindia Belanda?”, kenapa hal itu bisa terjadi?.

 

Pertama, karena mereka belum mengetahui  dampak dan bahayanya, mereka mudah dipengaruhi oleh bangsa asing dengan cara menghilangkan keseimbangan berfikir masyarakaat sehingga bangsa asing mudah untuk memberikan doktrin untuk bisa menuruti keinginan mereka.

 

Kedua, Banyak orang serakah, sehingga mau melakukan apa saja, sekalipun harus menghianati saudara dan bangsanya sendiri, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat. (HR. Bukhari no. 6438),

 

Yang ketiga adalah karena banyaknya pemalas. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah suatu desa untuk keluar berperang, tetapi mereka bermalas-malasan dan berat untuk keluar berperang. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menahan hujan untuk mereka, dan itulah adzabnya bagi mereka.

 

Ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama, mau dibawa kemana bangsa ini di era yang sudah tidak ada sekat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, jaman dimana setiap orang bisa leluasa keluar masuk didalam rumah kita tanpa permisi dengan sang tuan rumah, jaman dimana sudah tidak ada lagi privasi, tidak bisa membedakan mana ranah konsumsi tamu, mana ranah konsumsi keluarga.

 

Seharusnya kita bisa belajar dari sejarah perjalanan bangsa kita, bermuhasabah dan meminta pertolongan Allah untuk selalu ditunjukkan jalan yang lurus, minimal dimulai dari diri kita pribadi, memulai berbuat demi kemajuan, bangsa, agama dan keluarga kita?

Please reload

Other News

Sambut MEA, UPT BP2D Dinas Pendidikan Prov. Jatim Gelar Festival Cipta Desain & Fashion Show bagi Siswa SMK se-Jatim

May 13, 2017

1/10
Please reload

© Rapendik 2018