Other News

Sambut MEA, UPT BP2D Dinas Pendidikan Prov. Jatim Gelar Festival Cipta Desain & Fashion Show bagi Siswa SMK se-Jatim

May 13, 2017

1/10
Please reload

Berdaulat dengan Warung Kopi

August 14, 2017

 

Oleh : Selis Dwi Santoso

 

Suara klethikan sendok yang beradu dicangkir, ditambah lagi aroma kopi yang khas ketika diseduh dengan air panas menambah antusias siapapun yang berada didekat warung kopi itu, apalagi penat dan pegal setelah lelah berjualan dipasar tradisional sejak petang hingga subuh membuat lentho segera ingin  menyeruput  hidangan secangkir kopi hangat.

 

Lentho dengan cekatan menuangkan kopinya diatas lephek, tidak selang berapa lama, segera diseruputnya kopi yang berada di lephek sampai habis, ada senyum kecil terpancar dari wajah lentho senyum kebahagian karena dagangannya hari ini sudah ludes terjual dan merasakan nikmatnya kopi hangat yang masuk dikerongkongan, membuat tubuhnya menjadi hangat kembali, antara rasa pahit nya kopi dan manisnya gula berkolaborasi menghasilkan rasa baru.

 

hanya orang ikhlas yang mau merasakan dan menikmati pahit dan manisnya gula dalam satu wadah, sama seperti kehidupan, jika taraf laku  seseorang bisa iklhas menjalani sepahit apapun takdir Tuhan, sampai bisa menemukan rasa manis dari pahitnya takdir yang dijalani, maka orang tersebut sudah bisa berdaulat atas dirinya sendiri, seperti lidah kita berdaulat atas rasa kopi yang sudah kita minum, tanpa ada tekanan dari opini sebelumnya yang mengkutuk dan mencela rasa pahit.

 

Banyak sekali sosok-sosok seperti Lentho yang bisa berdaulat atas dirinya sendiri, seperti  pedagang buah, pedagang sayur, pedagang daging, pedangang bumbu dapur, kesemuanya itu adalah contoh konkrit orang yang berdaulat atas dirinya sendiri atau biasa dikatakan berdikari, tidak terkecuali yang membuka warung kopi ditengah-tengah pasar untuk menyediakan para penghuni pasar yang ingin melepas lelah dan menikmati secangkir kopi panas. “Berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerja sama internasional, terutama antara semua negara yang baru merdeka. Yang ditolak oleh berdikari adalah ketergantungan kepada imperialis, bukan kerja sama yang sama-sederajat dan saling menguntungkan.” Sukarno.  

 

Warung kopi bisa dijadikan simbol keberdaulatan diri kita, bekerja, beribadah, dan mengabdi sesuai prinsip yang kita yakini tanpa ada tekanan dari berbagai macam kelompok kepentingan, entah itu memperkaya diri sendiri dengan kedok memperjuangkan bangsa dan negara, atau mengatasnamakan agama demi kekuasan belaka, sama seperti para penikmat kopi di warung kopi, obrolan santai ditengah menikmati secangkir kopi, mereka sudah terbiasa berbicara dan membedah masalah sosial, politik budaya bahkan agama yang sering tidak terpecahkan didalam forum yang formal, yang sebenarnya memang bukan kewajiban dan wilayahnya membahas hal tersebut, kalaupun memang itu terjadi mereka anggap sedekah pemikiran terhadap bangsa dan negara ini.

 

Dari tempat kecil bernama warung kopi muncul banyak nilai yang bisa dipetik sebagai pelajaran salah satunya adalah jargon atau istilah yang mengatakan “ngopi dishek ben gak salah paham” hal ini adalah hasil pemikiran dari para pecinta kopi yang bisa dimaknai bahwa dengan kita ngopi secara bersama-sama, disana ada proses komunikasi, antara pedagang yang satu dengan pedagang yang lain, antara pebisnis yang satu dengan pebisnis yang lai, antara pegawai yang satu dengan pegawai yang lain, ada proses interaksi sosial ada proses komunikasi sehingga bisa meminimalisir kesalah pahaman cara berpikir, kesalah pahaman memaknai kebijakan dan kesalah pahaman menilai seseorang.

 

Ada lagi singkatan dari ngopi yakni ngontrol pikir, lagi lagi hasil pemikiran dari para pecinta kopi yang sarat makna dan penuh dengan nasehat untuk kehidupan, ngontrol pikir  disini bisa diartikan bahwa dengan management emotional quotient (EQ) yang tepat kita bisa membuat keputusan yang rasional dalam kehidupan kita, tidak grusah-grusuh tidak gupuh, kita harus bisa mengontrol emosi kita, karena sesngguhnya emosi adalah bagian dari bentuk hawa nafsu, sebaik-baiknya orang adalah orang yang bisa berperang melawan hawa nafsunya.

 

Dibalik syariat minum kopi pun kita bisa memaknai dan mentadaburi prosesnya dimulai dari mencampur kopi,gula dan air panas, disini bisa kita maknai sebagai proses toleransi, apapun agamanya, rasnya dan sukunya kalau kita siap berbineka tunggal ika maka kita siap menjadi secangkir kopi/ menjadi bangsa indonesia, setelah selesai diseduh masih belum bisa kita nikmati, masih ada proses menunggu menep/mengendap terlebih dahulu sebelum kita nikmati, disini bisa kita maknai sebagai proses melatih kesabaran, dengan kita terus mengasah kesabaran maka kita bisa membedakan mana sari air kopi, mana ampas/lethek kopi mana yang bisa kita konsumsi dan mana yang harus dibuang, seperti penerapan dikehidupan, dengan mengasah kesabaran kita bisa mengetahui mana, yang baik dan mana yang buruk, dengan begitu kita baru kita bisa menikmati rasa seduhan kopi yang sejati.  

 

Keberadaan warung kopi dan aktifitas minum kopi bareng memang sudah menjadi kebudayaan kita sejak lama, orang tua kita sudah mengenal kebudayaan ngopi bareng, selain sebagai sarana menyambung tali silaturahmi, tidak jarang pula ide ide cemerlang , dan gagasan besar tercipta diwarung kopi yang sederhana, mulai dari ide mengembangkan bisnis sampai gagasan membentuk komunitas sosial , serta masih banyak lainnya yang bisa kita angkat dari kebudayaan kita ngopi bareng di warung kopi.

Please reload

© Rapendik 2018