Other News

Sambut MEA, UPT BP2D Dinas Pendidikan Prov. Jatim Gelar Festival Cipta Desain & Fashion Show bagi Siswa SMK se-Jatim

May 13, 2017

1/10
Please reload

Fenomena Tindak Kekerasan Dilingkungan Sekolah

February 2, 2018

 

Oleh. Selis Dwi Santoso

 

Dunia pendidikan ketika sedang melakukan pembenahan diberbagai sektor, kembali terusik dengan munculnya kasus-kasus yang menyita perhatian khalayak, salah satunya kejadian yang menimpa salah satu guru di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura, Pak Budi Guru seni rupa disekolah tersebut, mengalami kekerasan yang dilakukan oleh salah satu muridnya yang mengakibatkan beliau meninggal dunia.

 

Setelah sebelumnya mencuat kasus siswa di Sidoarjo yang melaporkan gurunya ke polisi karena melakukan tindak penganiayaan, dan masih banyak lagi contoh kasus yang banyak membuat masyrakat bingung, bagaimana sistem pendidikan sekolah yang ideal, seperti  bagaimana hukuman yang harusnya diterapkan, jika apa yang dilakukan kepada siswa sampai diinterpretasikan kedalam tindak kekerasan?.

 

Era pendidikan ditahun 90’an mungkin bagi yang mengalaminya, masih teringat jelas bagaimana seorang guru memberikan hukuman pada saat pemeriksaan kuku panjang?, ya siswa yang mempunyai kuku panjang, harus sudah siap dengan resikonya, yakni ketokan penggaris sang guru siap mendarat dijari-jari kita, atau konsekuensi membuat gaduh pada saat jam pelajaran, yakni melayangnya penghapus papan tulis ke arah kita, dan masih banyak contoh yang lainnya.

 

Hal-hal tersebut, jika kita lakukan di zaman sekarang mungkin banyak guru di Indonesia yang sudah masuk penjara karena dilaporkan oleh oarang tua muridnya dengan laporan tindak kekerasan dan sudah melanggar hak asasi manusia.

 

Banyak guru yang juga prihatin dengan kondisi murid yang bermasalah, ketika sang guru ingin memberikan pendidikan dengan sistem reward and punishment hal tersebut sulit dilakukan, karena bayang-bayang akan berurusan dengan aparat penegak hukum dan berbagai permasalahan lain yang menghantui, disisi lain, jika murid yang bermasalah terus dibiarkan tanpa ada penanganan yang berkelanjutan, pada akhirnya seperti menunggu bom waktu, sewaktu-waktu akan meledak hingga kepermukaan yang akan menimbulkan permasalahan baru, seperti kasus di Sampang.  

 

Tindak kekerasan Menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain,  inilah yang menjadi mindset banyak orang mengartikan sebuah hukuman yang menurut hemat saya bisa kita artikan proses pendidikan sebagai sesuatu hal yang melanggar hak asasi manusia karena dianggap mengandung unsur tindak kekerasan.

 

Tindak kekerasan hingga berujung pidana, dalam KUHP diatur dalam pasal 351, R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal mengatakan bahwa menurut yurisprudensi, “penganiayaan” yaitu sengaja menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka. Menurut alinea 4 pasal ini, masuk pula dalam pengertian penganiayaan ialah “sengaja merusak kesehatan orang”.

 

Berbeda dengan bertindak tegas, yang dewasa ini juga sering diartikan sebagai wujud dari tindak kekerasan, guru jaman dahulu bertindak memberikan hukuman adalah wujud dari bertindak tegas, atas apa yang sudah diperbuat oleh muridnya, yang juga bagian dari proses pendidikan, sampai kemudian hal tersebut menjadi kegiatan yang  melanggar HAM sehingga harus menjalani proses hukum.  Berhasil atau tidaknya metode mendidik seorang guru adalah dengan ditentukan dari sejauh mana keberhasilan sang guru dalam mendidik siswanya.

 

Data tahun 2007 tercatat sekitar 3100 orang remaja yang terlibat dalam kasus kriminalitas, serta pada tahun 2008 dan 2009 meningkat menjadi 3.300 dan sekitar 4.200 remaja. (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2010). Tidak hanya dari segi kuantitas, laporan badan pusat statistik juga menjelaskan bahwa tindak kriminalitas yang dilakukan oleh remaja juga meningkat secara kualitas.

 

Dimana kenakalan yang dilakukan remaja pada awalnya hanya berupa perilaku tawuran atau perkelahian antar teman, sekarang berkembang sebagai tindak kriminalitas seperti pencurian, pemerkosaan, penggunaan narkoba hingga pembunuhan. Kasus-kasus remaja yang sedang marak diberitakan saat ini adalah perilaku remaja dalam geng motor. Menurut data Neta S Pane selaku ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) sepanjang tahun 2014 terdapat 38 kasus kekerasan yang dilakukan oleh anggota geng motor, yang mengakibatkan 28 orang tewas dan 24 orang mengalami luka-luka

 

Lantas bagaimana kita menyikapi fenomena seperti sekarang ini?, diperlukan sinergitas yang baik antara pembuat kebijakan, pelaksana maupun masyarakat sebagai penerima kebijakan, untuk kembali merumuskan dan meluruskan  pemahaman antara bertindak tegas dan tindak kekerasan, yang nantinya kebijakan tersebut bisa mengakomodir kebutuhan guru dalam hal ini sebagai pelaksana pendidikan disekolah untuk proses mendidik siswa, tanpa mengurangi dan mencederai hak dari siswa dan orang tua untuk memperoleh pendidikan yang layak dan memperoleh rasa aman dilingkungan sekolah.

 

Please reload

© Rapendik 2018